Jumpa Miq Bayu “Kecerdasan Spiritual Dalam Tatanan Normal Baru”
Jumpa Miq Bayu “Kecerdasan Spiritual Dalam Tatanan Normal Baru”
Ruang Rowot, Dishub, Jumat, 28 Agustus 2020
Hello Sobat DishubNTB, Acara special seri pertama hari ini betemakan: ” Kecerdasan Spiritual Dalam Tatanan Normal Baru” dengan memilih topik : KEBUTUHAN versus KEMAUAN.
Kebutuhan adalah hal-hal yang dicari setiap manusia untuk bisa menjalani kehidupannya. Sedangkan kemauan berkaitan dengan nafsu manusia untuk memiliki sesuatu yang belum tentu menjadi kebutuhannya.
Dalam konteks memenuhi kemauan atau nafsu, akan memunculkan keserakahan.
Di dunia ini, ditengarai, berkembang komunitas yang mengusung ideologi “depopulation”, sekelompok orang yang ingin mempertahankan penduduk dunia dalam junlah sedikit saja. Tujuannya, supaya bumi hanya dihuni oleh kelompok mereka yang sedikit saja itu. Hanya kelompok mereka saja yang berhak menjadi penduduk bumi, kira2 seperti itu ideologinya. Mereka lupa bahwa sesungguhnya, bumi akan selalu dapat memenuhi kebutuhan manusia, berapapun jumlah penghuninya, tetapi, bumi tidak akan dapat mencukupi kemauan atau nafsu manusia.

Masih dalam konteks daya dukung bumi atau alam, di NTB, pernah dilakukan kalkulasi, jumlah penduduk ideal pulau Lombok, dikaitkan dengan kemampuan ditopang oleh daya dukung dan daya tampung lingkungannya. Ketemu suatu jumlah tertentu, kira2 1 juta orang, sementara, jumlah penduduk Lombok saat ini sudah mencapai lebih 3 juta orang. Mestinya, sudah overload, tapi mengapa kita masih hidup? Karena ditemukan teknik2 budidaya tanaman dan perikanan yang baru, ads kemajuan dibidang distribusi logistik, mungkin juga karena penduduk Lombok tidak terlalu serakah sehingga kita masih hidup.
Apa bedanya antara memenuhi kebutuhan dan mengejar kemauan/nafsu? Jika manusia mengejar kemauannya (nafsu) tidak akan menjamin kebahagiaan, karena nilai kebahagiaan ada di dalam hati. Kenikmatan hidup ada dihati. Hilang atau berkurangnya kenikmatan, karena kita memiliki pembanding. Contoh nyata adalah dari sisi makanan, pada awalnya makan dengan lauk tempe sudah membuat kita bahagia, tapi ketika kita punya pembanding makanan lain, misalnya : ayam kentucky, ayam taliwang, sate ikan, bahkan sop kaki gajah, maka memakan tempe menjadi tidak bikin bahagia. Contoh lainnya adalah kebutuhan untuk memiliki mobil, mobil pertama sudah terbeli untuk memenuhi kebutuhan transportasi. Namun seiring naiknya pendapatan, manusia berhasrat membeli mobil kedua, ketiga, dan seterusnya. Lalu, menaiki mobil pertama, jadi tidak bahagia, karena mobil kedua, ketiga, dan seterusnya, memberi kenyamanan lebih karena dihiasi assesories lebih lengkap. Begitu pula, ada orang membeli mobil, mobil mewah nan mahal, sama sekali bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan bertransportasi, tetapi buat koleksi. Buat menuruti kemauan atau nafsunya.
Hal yang membuat manusia merasa tidak berbahagia atau sedih adalah ketika kemauan yang bukan menjadi kebutuhannya, tidak dapat dikendalikan dengan baik. Contoh lain. Ketika kita belanja. Acapkali yang kita beli adalah barang2 yang sebenarnya tidak kita butuhkan. Barang yang terbeli dan dibawa kerumah, ternyata hanya untuk memuaskan “lapar mata.” Barang2 seperti ini, bahkan tidak pernah dipakai sejak dibeli. Sebenarnya “kita sedang membawa pulang “sampah” ke rumah”. Coba diingat ingat, berapa kita membeli pakaian lebih dari yang kita butuhkan, seringkali pakaian yang baru terbeli jarang digunakan. Analogi yang sama dalam konteks sumur, perbedaan antara sumur yang jarang dikuras dan sumur yang sering dikuras, mempengaruhi kualitas air yang ada di dalam sumur. Intinya, kita perlu memperhatikan hal-hal yang sudah kita miliki, dan jika ada kelebihan, kita perlu memberikan kepada orang lain yang membutuhkan.

Selanjutnya, bagaimana konsep memberi yang dapat mendatangkan kebaikan untuk si pemberi? Ikhlas adalah kata kunci dalam konsep memberi antar sesama. Konsep ikhlas adalah memberikan sesuatu kepada orang lain tanpa mengharapkan agar orang lain dapat memberikan bantuan yang sama kepada kita. Berikan dan lupakan. Persis seperti kita (maaf) pergi ke toilet. Bukankah kita buang, lupakan lalu kita lega dan merasa fresh?? Itu contoh baik dari ikhlas. Berikan. Sukacita. Lupakan. Dan memberi dengan cara inilah yang diberi ganjaran 10 x lipat, sesuai janji Allah. Berkali kali saya alami hal seperti ini. Dan menjadi pengalaman spiritual saya yang sangat nikmat sekaligus unik. Hari ini saya memberi dengan ikhlas, besok diganjar 10 x lipat bahkan lebih. Saya sangat haqqul yakin dengan janji Allah ini. Tapi pertanyaannya, mengapa saya tidak mampu ikhlas untuk memberi dalam junlah besar? Kan ganjarannya akan besar pula. Itu pasti lantaran kadar keihlasan saya, belum sebaik para darmawan tingkat tinggi layaknya para sahabat, para wali. Jika memberi dalam jumlah besar , ada keraguan, ada hati yang goyang dan itu adalah ketidak ikhlasan yang penuh. Nah memberi yang begini ini, tidak bakal mendapat ganjaran 10x lipat itu. Sebenarnya kita bisa berbisnis dengan Tuhan, dengan cara memberi dengan ikhlas. Coba saja. Tapi harus benar2 ikhlas. Kalau ikhlasnya goyang sedikit, bakal tidak dapat ganjaran 10x lipat. Seperti pengalaman spiritual saya, berkali kali memberi dengan ikhlas, dapat ganjaran 10 x lipat. Tapi saya tidak pernah bisa ikhlas, jika memberi dalam jumlah besar. Saya terus belajar. Insya Allah.(kadis/dishbntb)
~~~ Bayu ~~~
0 Comments